Home
Projects
About
Services
Blog
Contact
Kembali
regulatory affairfarmasi industribpomregulasi obat

Regulatory Affair Pilar Penting Industri Farmasi

Regulatory affair menjadi pilar utama industri farmasi Indonesia, menjembatani perusahaan dengan BPOM dan regulator global. Pastikan kepatuhan standar keamanan obat, khasiat, dan mutu. Pelajari peran krusialnya untuk sukses bisnis farmasi Anda sekarang!

Gilang Ramadhan•10 Maret 2026•5 min read
Regulatory Affair Pilar Penting Industri Farmasi
Regulatory Affair Pilar Penting Industri Farmasi

Regulatory Affair: Pilar Penting dalam Industri Farmasi

Industri farmasi merupakan sektor yang sangat teregulasi, di mana setiap aspek, mulai dari penelitian dan pengembangan hingga distribusi produk jadi, harus mematuhi standar ketat untuk memastikan keamanan, khasiat, dan mutu obat. Di jantung kepatuhan ini terdapat fungsi regulatory affair. Peran regulatory affair sangat krusial dalam menjembatani komunikasi antara perusahaan farmasi dan badan pengawas obat seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia, serta badan regulasi internasional lainnya. Tanpa pemahaman mendalam dan kepatuhan terhadap lanskap regulasi yang terus berkembang, inovasi farmasi berisiko terhenti atau bahkan membahayakan pasien.

Dalam konteks global, pembaruan standar seperti Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme (PIC/S) GMP Guide dan pedoman WHO terus mendorong industri untuk meningkatkan praktik produksinya. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (PerBPOM) Nomor 7 Tahun 2024 tentang Standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) 2024, yang menggantikan Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2018, merupakan bukti nyata adaptasi Indonesia terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi (Farmasetika.com, 2024). Peraturan ini menekankan pentingnya memastikan obat dan bahan obat yang beredar memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu yang tinggi.

Memahami Regulasi Obat di Indonesia

Dalam industri farmasi Indonesia, regulatory affair bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua produk dan proses perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ini mencakup perizinan produk, pemeliharaan izin edar, pelaporan efek samping, serta kepatuhan terhadap praktik manufaktur yang baik.

Standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

Standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah fondasi dari praktik manufaktur farmasi yang aman dan berkualitas. CPOB 2024, yang mengacu pada panduan internasional seperti PIC/S GMP Guide dan WHO Guidelines, menetapkan persyaratan rinci untuk semua aspek produksi dan pengendalian mutu, termasuk personel, bangunan dan fasilitas, peralatan, dokumentasi, produksi, pengendalian mutu, dan sistem manajemen mutu (Farmasetika.com, 2024). Kepatuhan terhadap CPOB tidak hanya merupakan kewajiban hukum, tetapi juga merupakan komitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Perubahan dalam CPOB 2024, misalnya terkait penunjukan personel kunci seperti kepala produksi, kepala pengawasan mutu, dan kepala pemastian mutu, menunjukkan fleksibilitas regulasi yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan industri, meskipun tetap menekankan pentingnya kompetensi dan independensi personel (Farmasetika.com, 2024).

Farmakope Indonesia dan Pedoman Teknis

Selain CPOB, regulatory affair juga harus memastikan bahwa produk farmasi memenuhi standar mutu yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia. Farmakope Indonesia menyediakan monograf untuk bahan baku, produk jadi, dan metode pengujian yang harus dipatuhi. Revisi regulasi oleh BPOM, seperti PerBPOM Nomor 7 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 7 Tahun 2024 tentang Standar Cara Pembuatan Obat yang Baik, menunjukkan upaya berkelanjutan untuk menyelaraskan standar nasional dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi farmasi internasional (BPOM, 2025).

Implementasi Praktis dan Kepatuhan Regulasi

Fungsi regulatory affair bekerja erat dengan departemen lain, terutama produksi dan pengendalian mutu (Quality Control/QC), serta pemastian mutu (Quality Assurance/QA).

Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA)

Quality Control (QC) bertanggung jawab untuk melakukan pengujian terhadap bahan baku, produk antara, dan produk jadi untuk memastikan kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan. Sementara itu, Quality Assurance (QA) memastikan bahwa seluruh sistem manajemen mutu berjalan efektif, mencakup penerapan CPOB, validasi proses, penanganan keluhan, dan audit internal. Keduanya merupakan pilar penting dalam menjaga kualitas produk dan kepatuhan terhadap regulasi.

Kepatuhan Regulasi dan Perizinan

Salah satu tugas utama regulatory affair adalah mengelola proses perizinan produk, mulai dari pengajuan dossier, respons terhadap pertanyaan dari badan regulator, hingga pemeliharaan izin edar. Ini termasuk pembaruan informasi produk, pelaporan perubahan formulasi atau proses produksi, serta memastikan kepatuhan terhadap peraturan iklan dan promosi obat. BPOM secara aktif memperbarui standar untuk meningkatkan keamanan dan kualitas obat yang beredar, sebagaimana tercermin dalam pembaruan CPOB (BPOM, 2025).

Dalam konteks yang lebih luas, studi mengenai beban penyakit global, seperti penyakit stroke, menyoroti pentingnya obat yang aman dan efektif untuk penanganan kondisi kronis (GBD 2021 Stroke Risk Factor Collaborators, 2024). Hal ini menegaskan peran vital industri farmasi dan fungsi regulatory affair dalam menyediakan akses terhadap terapi yang terjamin kualitasnya.

Masa Depan Regulatory Affair dalam Industri Farmasi

Lanskap regulasi farmasi terus berkembang, didorong oleh kemajuan teknologi, munculnya terapi baru, dan peningkatan kesadaran akan keamanan pasien.

Tren Industri dan Tantangan

Tren ke depan meliputi digitalisasi proses registrasi, penggunaan data real-world evidence (RWE) dalam pengambilan keputusan regulasi, dan peningkatan fokus pada obat-obatan inovatif seperti terapi sel dan gen. Tantangan bagi para profesional regulatory affair adalah untuk tetap up-to-date dengan perubahan regulasi, menguasai teknologi baru, dan memastikan kepatuhan di tengah kompleksitas global.

Perkembangan dalam penanganan penyakit inflamasi saluran napas, misalnya, yang melibatkan pemahaman mendalam tentang peran sitokin seperti Interleukin-5 (Buchheit KM et al., 2024), juga memerlukan pemahaman regulasi yang spesifik untuk terapi biologis. Fungsi regulatory affair harus mampu menavigasi persyaratan unik untuk produk-produk ini.

Kesimpulannya, regulatory affair adalah fungsi yang sangat dinamis dan esensial dalam industri farmasi. Dengan pemahaman mendalam tentang regulasi, standar CPOB, dan pedoman teknis lainnya, serta kolaborasi yang kuat dengan departemen terkait, regulatory affair memastikan bahwa obat yang sampai ke tangan pasien adalah produk yang aman, berkhasiat, dan berkualitas tinggi, sejalan dengan komitmen BPOM dan standar internasional.


Referensi

  1. Design and baseline characteristics of the Finerenone, in addition to standard of care, on the progression of kidney disease in patients with Non-Diabetic Chronic Kidney Disease (FIND-CKD) randomized trial
  2. Forecasting the effects of smoking prevalence scenarios on years of life lost and life expectancy from 2022 to 2050: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2021
  3. Global, regional, and national burden of stroke and its risk factors, 1990-2021: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2021
  4. Interleukin-5 as a pleiotropic cytokine orchestrating airway type 2 inflammation: Effects on and beyond eosinophils
  5. Standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) 2024
  6. CPOB 2024: Penanggung Jawab Produksi, QC, dan QA Sesuai Regulasi yang Berlaku – Info Farmasi Terkini Berbasis Ilmiah dan Praktis
  7. Siaran Pers
  8. Peraturan BPOM Nomor 7 Tahun 2024 tentang Standar Cara Pembuatan Obat yang Baik - GP Farmasi Indonesia
  9. (PDF) KONSEP DAN PERAN QUALITY ASSURANCE DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN

On This Page

Regulatory Affair: Pilar Penting dalam Industri FarmasiMemahami Regulasi Obat di IndonesiaStandar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)Farmakope Indonesia dan Pedoman TeknisImplementasi Praktis dan Kepatuhan RegulasiQuality Control (QC) dan Quality Assurance (QA)Kepatuhan Regulasi dan PerizinanMasa Depan Regulatory Affair dalam Industri FarmasiTren Industri dan TantanganReferensi
Lihat semua artikel

Diperbarui terakhir: 10 Maret 2026

Lanjut Baca

Artikel lain yang masih relevan buat dibuka setelah ini.

Urutan rekomendasi sekarang diprioritaskan dari tag yang paling dekat dengan artikel yang sedang dibaca.

Penyakit Ginjal: Kenali Gejala & Pencegahan Dini
farmasi

Penyakit Ginjal: Kenali Gejala & Pencegahan Dini

Penyakit Ginjal: Kenali Gejala & Pencegahan Dini

9 Mar 2026•5 min read•Buka
Penyakit Campak di Indonesia 2026: cakap mencegah dan obati
penyakit campakobatan

Penyakit Campak di Indonesia 2026: cakap mencegah dan obati

Penyakit campak terus menjadi masalah kesehatan di Indonesia pada 2026. Pelajari gejala, cara mencegah, dan obat yang berkesan bagi kesehatan materi.

9 Mar 2026•7 min read•Buka
AI dalam Penemuan Obat: Revolusi Farmasi Dimulai
aifarmasi

AI dalam Penemuan Obat: Revolusi Farmasi Dimulai

Kecerdasan Buatan (AI) merevolusi penemuan obat di industri farmasi Indonesia. Pahami bagaimana AI farmasi mempercepat pengembangan terapi baru dan dampaknya. Baca selengkapnya!

9 Mar 2026•6 min read•Buka
HomeHomeProjectsProjectsAboutAboutServicesServicesBlogBlogContactContact